Datang langsung (dengan perjanjian):
Ruko Panbil blok C No.12B, Muka Kuning.
Semua umat manusia di dunia percaya bahwa mati itu pasti terjadi, bahkan bagian dari keimanan seorang muslim – kita juga yakin seyakin-yakinnya bahwa hari kiamat pasti terjadi. Yang kita tidak tahu adalah waktunya – kapan hal-hal yang pasti tersebut terjadi. Demikian pula keyakinan kita bahwa uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba pasti hancur karena Allah sendiri yang berjanji akan memusnahkannya (QS 2 : 276). Yang kita juga tidak tahu adalah kapan uang kertas ini akan musnah. Bahkan spekulan masa kini George Soros dan juga futorolog masa kini kini seperti John Naisbitt -pun meyakini akan berakhirnya dominasi mata uang kertas ini. Bukti-bukti kehancuran uang kertas ini sudah begitu banyak, namun kita sering mengabaikan. Bukti paling mutakhir yang kini sedang terjadi adalah harga emas per-pagi ini dalam Dollar yang melonjak 43.70 % dibandingkan harga emas setahun yang lalu. Di Indonesia uang kita pernah dipotong tiga angka nolnya tahun 1965 – namun tiga angka nol tersebut kembali lagi dalam 30 tahun kemudian. Saat ini tidak ada diantara kita yang menaruh uang Rupiah dengan angka nol kurang dari tiga di dompet !. Tahun 1998 kekayaan umat Islam Indonesia dalam Rupiah jatuh nilinya tinggal 1/4 dari nilai sebelumnya hanya dalam hitungan hari… Foto disamping menunjukkan betapa tragisnya nasib uang kertas di Jerman tahun 1923. Seorang ibu lebih suka membakar uang untuk menghangatkan ruangan daripada membeli kayu bakar – karena harganya sama !. Pada tahun itu juga orang yang membeli roti harus membawa kereta dorong, bukan untuk mengangkut roti – tetapi untuk mengangkut uangnya. Melihat ini semua, sikap kebanyakan kita adalah seperti melihat kematian. Kita yakin kita juga akan mengalami – tetapi sangat sedikit dari kita yang mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Lantas bagaimana kita menghadapinya ? Bangun ketahanan ekonomi rumah tangga kita berbasis Dinar (Yukhsinun), namun jangan sampai menimbun (Yaknizun). Lihat antara lain tulisan saya sebelumnya Bangun Ketahanan Ekonomi…; dan banyak lagi tulisan lainnya baik yang sudah maupun yang akan saya tulis kemudian – insyaallah apabila Allah memberi usia saya dan memberi kesehatan, memberi kelapangan rizky, waktu dan berbagai kurnia lain yang tidak bisa kita sebut satu per satu. Wallahu A’lam bis Showab.
Kurang dari tiga minggu lalu – tepatnya tanggal 11 januari 2008, saya menulis di blog ini bahwa Dinar sedang menuju angka psikologis berikutnya yaitu Rp 1,200,000. Pagi ini analisa tersebut terbukti. Dengan demikian berarti dalam 1 bulan terakhir Dinar melewati dua angka psikologis – setelah tanggal 3 Januari 2005 Dinar melewati angka Rp 1,100,000,-. Hal ini sama sekali bukan berarti saya peramal atau tahu sesuatu sebelum terjadi, tetapi semata karena pola kehancuran uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba ini begitu jelas dan dijanjikan sendiri oleh Allah swt. Lihat tulisan saya sebelumnya mengenai Kehancuran Uang Kertas, dan juga tulisan mengenai Harga Dinar. Selain bisa dilihat dari kacamata keimanan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an ; proses kehancuran uang kertas ini juga dapat dilihat dari analisa terhadap realitas pasar. Hal ini bahkan diakui oleh praktisi atau spekulan pasar sekaliber George Soros. Dalam pertemuan di Davos – Swiss pekan lalu ia bahkan mengguncang pasar uang dengan pernyataannya bahwa penurunan nilai Dollar sekarang ini akan menuju berakhirnya dominasi mata uang Dollar yang berlaku di dunia saat ini. Kenyataan ini membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada mata uang kertas yang bisa berumur panjang. Keberadaannya bisa jadi akan tetap dipaksakan, tetapi nilainya tidak ada. Ketidak percayaan pasar terhadap Dollar-lah yang menjadi penyebab utama melonjaknya harga emas internasional di seluruh perdagangan kemarin. Bukan emasnya yang naik tetapi daya beli Dollar-nya yang semakin menurun. Kalau US Dollar saja yang selama ini dianggap perkasa bisa hancur, apa yang membuat kita percaya bahwa uang kertas kita akan tetap perkasa ? . Perlu diingat bahwa dalam jangka pendek menurunnya nilai Dollar atau naiknya nilai emas ini juga masih sangat kuat dipengaruhi oleh spekulasi pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan lagi suku bunganya secara significant dalam rapat rutinnya tiga hari mendatang. Apabila spekulasi ini tidak terbukti – sangat mungkin harga emas akan turun kembali setelah itu. Apabila harga emas turun awal minggu depan, ini akan bersifat sementara – karena trend utamanya akan tetap naik seperti saya uraikan di beberapa tulisan sebelumnya yang saya sebut diatas. Wallahu A’lam bi Showab. Pengunjung mencari info tentang :analisa george soros
Sebelumnya saya telah menulis mengapa uang kertas tidak dapat kita pakai untuk membuat perencanaan finansial jangka panjang, pada tulisan ini saya ingin mulai memberikan alternatifnya dengan menggunakan Dinar. Sebelum membahas detil kebutuhan finansial bagi pribadi dan keluarga kita, terlebih dahulu perlu dipahami adanya dua jenis kebutuhan finansial yaitu kebutuhan yang dapat diprediksi dan kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi. Kebutuhan finansial yang bisa diprediksi membutuhkan pengumpulan sejumlah dana dalam periode tertentu sehingga pada saat dibutuhkan dana tersebut tersedia. Contoh kategori ini adalah dana pergi haji, dana pendidikan anak, dana untuk pembelian rumah dan lain sejenisnya. Kebutuhan finansial yang tidak dapat diprediksi bisa timbul kapan saja atau tidak timbul sama sekali. Dari kategori ini ada kebutuhan finansial yang bisa timbul kapan saja dan pasti terjadi, hanya waktunya yang tidak diketahui seperti kebutuhan biaya-biaya yang terkait dengan kematian anggota keluarga atau konsekwensi dari kematian anggota tersebut. Ada pula kebutuhan finansial yang bisa terjadi kapan saja tetapi mungkin juga tidak terjadi sama sekali seperti biaya-biaya yang terkait dengan risiko kesehatan, bencana alam, kecelakaan dan sejenisnya. Jenis kebutuhan finansial yang kedua ini yang pada umumnya diatasi melalui tolong menolong atau bentuk modernnya dikelola oleh Takaful atau asuransi syariah. Selain dapat tidaknya suatu kebutuhan finansial diprediksi, kebutuhan ini juga dapat dikelompokkan menjadi kebutuhan kebutuhan tunai dan kebutuhan pendapatan sebagai berikut : KEBUTUHAN TUNAI Dana Pendidikan Dana Darurat Dana Pelunasan Hutang Dana Penyelesaian Warisan KEBUTUHAN PENDAPATAN Kebutuhan Esensial Makanan Pakaian Perumahan Perawatan Rumah Transportasi Bahan Bakar Perawatan Kesehatan …… Kebutuhan Tidak Esensial Perayaan Ulang Tahun Liburan Peralatan Olah Raga Baju Pesta Kwalitas Makanan … Sekarang kita coba menghitung kebutuhan Dinar untuk kelompok pertama yaitu Kebutuhan Tunai. Untuk mudahnya dipahami, saya menggunakan contoh keluarga imaginer – katakanlah keluarga Abdullah dengan profil sebagai berikut : Di Keluarga Abdullah, saat ini hanya Pak Abdullah yang bekerja. Usia Pak. Abdullah saat ini adalah 44 tahun dan merencanakan ‘pensiun’ dari pekerjaan sekarang dalam 11 tahun kedepan atau pada usia 55 tahun. Pak Abdullah memiliki tiga orang putra yang saat ini masing-masing berusia 18 tahun, 14 tahun dan 8 tahun. Pak Abdullah ingin anaknya semua dapat menyelesaikan perguruan tingi. Selain dari pada itu beliau juga ingin keluarganya tetap mandiri dan tidak menjadi beban orang lain sampai akhir usia Bapak dan Ibu Abdullah yang berdasarkan statistik harapan hidup rata-rata di Indonesia bisa mencapai 70 tahun. Sebagai muslim yang taat, sementara mengusahakan kehidupan di dunia yang mandiri, keluarga Abdullah tidak ingin kehilangan kesempatan beramal semaksimal mungkin. Oleh karenanya keluarga Abdullah ingin terus meningkatkan Sedeqah-nya sehingga mencapai 1/3 dari penghasilannya sampai akhir hayatnya. Karena didorong oleh keinginanya untuk meng-akhiri usianya dengan usia dan amal terbaik, maka beberapa tahun terakhir keluarga Abdullah telah merintis usaha untuk skala rumah tangga. Pak Abdullah juga merencanakan pergi haji berdua dengan istri dua tahun dari sekarang. Untuk menyederhanakan pendekatan kebutuhan Dinar keluarga Abdullah, langkah pertama yang dibutuhkan untuk perencanaan finansial adalah dibuatnya kerangka waktu atau time frame. Perencanaan finansial akan selalu perlu time frame agar bisa tahu kapan dana tunai dan dana pendapatan dibutuhkan. Berdasarkan uraian diatas, maka secara garis besar kerangka waktu perencanaan finansial keluarga Abdullah dapat digambarkan dalam illustrasi berikut: Dari ilustrasi tersebut kita sudah bisa memetakan beberapa kebutuhan tunai dan kapan dibutuhkan. Karena Dinar tidak terpengaruh oleh inflasi, maka hal ini memudahkan kita dalam membuat rencana jangka panjang. Misalnya kita tahu bahwa saat ini masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia perlu sekitar Rp 50 juta – maka anggaran 50 Dinar- pastilah cukup. kalau 50 Dinar cukup untuk masuk perguruan tinggi sekarang, insyaallah pada saat anak ke 2 Pak Abdullah yang akan masuk perguruan tinggi dua tahun lagi juga akan cukup dianggarkan 50 Dinar. Demikian pula anaknya yang ketiga yang akan masuk perguruan tinggi 9 tahun yang akan datang. Biaya pergi haji juga demikian. Untuk tahun ini biaya ONH biasa termasuk uang saku 30 Dinar cukup – maka dua tahun lagi dengan jumlah Dinar yang sama insyaallah juga akan cukup. Untuk pergi haji berdua Pak Abdullah hanya akan membutuhkan dana 60 Dinar. Apabila Pak Abdullah juga membutuhkan dana darurat untuk jaga-jaga biaya sakit dlsb. misalnya 50 Dinar, maka kebutuhan tunai Pak Abdullah yang perlu direncanakan pengadaannya adalah 50+2×30+50+50 atau 210 Dinar, 160 Dinar dibutuhkan dalam jangka pendek (2 tahun) dan sisanya masih 9 tahun lagi. Untuk menghitung Kebutuhan Pendapatan pada masa pensiun insyaallah akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.
Apabila kita lihat grafik-grafik harga Dinar 1 – 2 bulan terakhir seperti yang selalu saya sajikan di sidebar blog ini, nampaknya harga psikologis Dinar Rp 1,200,000 akan segera tercapai. Bayangkan, angka psikologis Rp 1,000,000/Dinar baru tercapai tanggal 27 Oktober 2007 lalu, kemudian angka Rp 1,100,000/Dinar tercapai 3 Januari 2008 – dan sekarang sudah menuju angka psikologis berikutnya Rp 1,200,000 – sesuatu yang sangat salah (seriously wrong) sedang terjadi di mata uang dunia. Saya tidak bermaksud membuat masyarakat panik atau resah, sebaliknya saya sedang berusaha memberi tahu masyarakat agar tidak menjadi korban seperti yang terjadi tahun 97/98 ketika nilai kekayaan bangsa ini turun tinggal seperempatnya hanya dalam beberapa minggu. Ini juga bukan karena saya berdagang Dinar- saya hanya penulis buku/blog, ceramah dan membantu masyarakat yg ingin menerapkan tulisan saya, bahkan kalau ada orang lain yang menyediakan Dinar dalam skala besar saya akan senang – karena kebutuhan masyarakat akan Dinar untuk mengamankan assetnya ini sekarang belum terpenuhi. Trend kenaikan harga Dinar/Emas ini juga diprediksi oleh Gold Price Organization, disini saya ambilkan grafik hasil analisa mereka sebagai berikut :
Bagi para perencana finansial, inflasi adalah faktor ketidak pastian terbesar yang paling sulit diatasi. Betapa tidak, di negeri seperti Indonesia Inflasi terburuk (terbesar) dalam sepuluh tahun terakhir pernah mencapai 78% (tahun 1998). Lebih buruk lagi dalam lima puluh tahun terakhir, di Indonesia inflasi pernah benar-benar tidak terkendali dan mencapai angka 650% (tahun 1965). Inflasi yang berarti menurunnya daya beli uang, ternyata tidak hanya di alami oleh mata uang Rupiah, bahkan mata uang dunia yang selama ini dianggap perkasa yaitu Dollar Amerika, daya beli mata uang Dollar Amerika tersebut terhadap emas telah turun tinggal 29 % dalam 8 tahun terakhir, dalam 40 tahun terakhir daya beli Dollar Amerika terhadap emas tinggal 4 % saja !. Pada umumnya ketika kita merencanakan kebutuhan finansial Kita kedepan, apakah untuk keperluan ‘pensiun’ yang mungkin masih 20-30 tahun lagi, biaya pendidikan anak di perguruan tinggi yang masih belasan tahun lagi, ataupun kebutuhan biaya lain yang sifatnya jangka panjang, Kita memerlukan asumsi inflasi yang Kita akan hadapi – misalnya 10% per tahun. Asumsi kedua adalah hasil investasi dari dana Kita, targetnya tentu selalu diatas angka inflasi tersebut agar pertumbuhan dana Kita tidak kalah cepat dengan kenaikan inflasi. Disinilah problem Kita yaitu menghadapi dua ketidakpastian sekaligus, ketidak pastian inflasi dan ketidakpastian hasil investasi. Contoh konkrit masalah ini saya ambilkan pengalaman seorang kawan dengan asuransi pendidikannya. Kawan ini eksekutif di perusahan telekomunikasi, beliau kecewa berat dengan asuransi pendidikan anaknya yang dibeli tahun 1988. Saat itu ketika anaknya baru lahir, dia membeli produk asuransi pendidikan senilai Rp 22.5 juta yang akan cair pada saat anaknya masuk perguruan tinggi. Saat itu nilai pertanggungan ini sangat besar dan pada tahun-tahun awalnya harus dibayar 20 % dari gaji bulanan dia. Tahun 2006 ketika anaknya masuk ITB dan perlu membayar Rp 45 juta uang pangkal, dana asuransi yang cair ternyata hanya cukup membayar separuh dari uang pangkal tersebut. Siapa yang salah ? perusahaan asuransi sudah membayar kewajibannya dengan benar, kawan saya juga telah konsisten selalu membayar preminya bertahun-tahun dengan benar. Yang salah tidak lain adalah nilai uang kita yang sangat tidak bisa diandalkan. Nilai pertanggungan Rp 22.5 juta tahun 1988 adalah setara dengan 227 Dinar.; ketika cair tahun 2006, nilai asuransi Rp 22.5 juta tersebut tinggal 32 Dinar ! (kalau uang asuransi tersebut cair pada saat tulisan ini saya buat 1 Muharam 1429 – Rp 22.5 juta hanya setara dengan 19 Dinar !). Bayangkan kalau dari awal teman saya yang sholeh tersebut membeli produk asuransi pendidikan dengan nilai sebesar 227 Dinar*, maka saat cair tahun 2006 nilai 227 Dinar tersebut setara dengan Rp 161 juta (Kalau jumlah Dinar yang sama ditukar ke Rupiahnya saat ini menjadi Rp 261 juta). Uang ini bukan hanya cukup untuk membayar uang pangkal di ITB, tetapi juga masih cukup untuk membelikan anaknya mobil baru untuk kuliah dan membayar seluruh biaya pendidikan sampai anaknya tamat !. Inilah indahnya kalau produk keuangan jangka panjang dikelola dengan Dinar, mata uang baku yang nilainya tidak pernah terdevaluasi sepanjang jaman….! Note: *Sayangnya produk asuransi pendidikan belum ada yang dibuat dengan nilai Dinar, mudah-mudahan ada perusahaan asuransi jiwa syariah yang mau mengeluarkan produk berbasis Dinar ini – soalnya di asuransi kesehatan sudah ada.
