Dolar

Muhaimin Iqbal on April 20th, 2011

Ketika akhir 2007 saya menulis teori Deret Fibonacci untuk menggambarkan sequel kehancuran uang kertas, saat itu harga Dinar dalam Rupiah berada pada angka Rp 1,096,900 dan berdasarkan teori tersebut saya tulis akan mencapai kisaran Rp 1.8 juta untuk puncak berikutnya – puncak ini kemudian benar-benar terlampaui dalam waktu kurang dari 3.5 tahun. Dalam US$ saat [...]

Continue reading about Unfair Advantage : Kekuatan Dari Edukasi Financial

Muhaimin Iqbal on November 1st, 2010

Ada seorang teman yang saya kenal baik sejak tahun 1990-an hingga kini, karena kedekatan tersebut dia cukup leluasa mengungkapkan segala problem financial-nya ke saya. Pada tahun 1995 dia diangkat menjadi manager di perusahaan asing dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan; kini dia  direktur di salah satu group perusahaan besar dengan gaji Rp 100 [...]

Continue reading about Dinar Sebagai Yardstick Kemakmuran dan Perencanaan Keuangan

Muhaimin Iqbal on October 21st, 2010

Di malam menjelang perang Baratayudha terjadi, pasukan-pasukan dari pendukung Pandawa maupun Kurawa berkumpul di padang Kurusetra.  Sebenarnya tidak semua orang ingin berperang, hati mereka bergetar dan bertanya-tanya mengapa perang harus terjadi ?. Resi Bisma yang dihormati oleh kedua belah pihak-pun sebenarnya berusaha mencegah perang, dia berusaha membagi tanah Astina dengan adil agar tidak terjadi perang – [...]

Continue reading about Akhir Currency War: Antara Resi Bisma dan Dewi Srikandi?

Muhaimin Iqbal on October 13th, 2010

Bagi Anda yang berpenghasilan US$ namun pengeluaran dalam Rupiah, setahun terakhir Anda mungkin merasakan uang Anda lebih cepat habis karena biaya hidup yang bertambah mahal. Hal ini adalah karena penghasilan Anda dalam US$ bila dikonversikan ke Rupiah setahun terakhir mengalami penurunan sekitar sekitar 5 % dari US$ 1 = Rp 9,450 (oct’ 09) ke US$ [...]

Continue reading about Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak?

Muhaimin Iqbal on August 24th, 2010

Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi “gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah”. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang  membuat para gajah tersebut bertarung – tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula – maka matilah dia karena [...]

Continue reading about Investasi di Era Competitive Devaluation : Jangan Mau Jadi Pelanduk