Datang langsung (dengan perjanjian):
Ruko Panbil blok C No.12B, Muka Kuning.
Catastrophe adalah istilah untuk kejadian atau musibah luar biasa yang sangat besar dampaknya bagi harta benda dan jiwa manusia. Dalam dunia risk management istilah ini biasa digunakan untuk bencana alam sekelas tsunami Aceh akhir 2004, dan yang masih segar diingatan kita adalah gempa bumi dan tsunami di Jepang yang kemudian juga disusul dengan bencana radiasi radioaktif. Sejak krisis financial 2008, karena skalanya yang luar biasa – para financial risk manager juga mulai menggunakan istilah catastrophe ini untuk menggambarkan luasnya dampak bencana financial waktu itu. Pekan lalu istilah Financial Catastrophe kembali diangkat di media oleh sekelompok mantan ahli ekonomi Gedung Putih dengan membuat surat terbuka yang intinya mengingatkan bahwa mendung Financial Catastrophe sedang membayangi negeri itu. Yang lebih konkrit lagi, akhir pekan lalu juga – LSM yang misinya menyiapkan warga Amerika untuk menghadapi hyperinflasi – National Inflation Association (NIA) – me-release 12 tanda-tanda bahwa hyperinflasi bisa jadi akan segera terjadi di negeri itu. 12 tanda-tanda ini adalah : Federal Reserve yang membeli sendiri sampai 70% surat hutang baru yang dikeluarkan negeri itu. Artinya surat hutang negeri itu mulai tidak laku dijual. Pihak swasta mulai menghentikan pembelian surat utang negara. China mulai ancang-ancang meninggalkan US Dollars sebagai reserve currency-nya. Jepang yang merupakan negara no 2 terbesar pemegang surat utang negara AS mulai menjual portfolio-nya. Tidak biasanya, tingkat suku bunga the Fed kini berada pada angka 0.00 – 0.25 % sejak Desember 2008. Year –Over- Year (yoy) Consumer Price Index (CPI) meningkat sampai 92% selama tiga bulan terakhir. Lalainya control media dan masyarakat akan tingginya kenaikan CPI di no 6. Budget Deficit yang memecahkan rekor baru di angka US$ 222.5 Milyar. Tingginya persentase deficit yang mencapai 43% dari total pengeluaran. Obama yang dituduh berbohong dalam kebijakan luar negerinya. Dahulu warga negeri itu berharap Obama akan mengurangi keterlibatan dalam perang di negeri orang, kini ternyata malah memulai perang baru seperti di Libya – siapa lagi yang akan menanggung bebannya selain warga negeri itu sendiri ?. Obama juga dituduh menyesatkan definisi Balanced Budget dengan mengeluarkan beban bunga dari hutang nasional-nya, padahal justru beban bunga ini yang meledak sangat besar. Amerika harus memikul kenaikan beban bunga yang sangat besar yang besarnya diperkirakan bisa mencapai 30% – 40 % dari penerimaan pajak negeri itu. Tidak ada negeri yang bisa selamat dari hyperinflasi dengan beban bunga sebesar ini !.
Bagi Anda dan saya, umumnya kita hanya bisa menambah asset dengan bekerja keras kemudian mendapatkan gaji bagi yang bekerja atau mendapatkan untung bagi yang berwirausaha. Perusahaan-pun demikian, asset bersih-nya hanya bertambah bila perusahaan bekerja keras dan sukses mendapatkan untung. Tidak demikian halnya dengan institusi yang namanya bank sentral, mereka bisa mencetak uang dari awang-awang atau bahkan sama sekali tidak perlu mencetaknya – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputernya – bahwa asset mereka bertambah – maka asset mereka-pun bertambah !. Mau lihat buktinya secara nyata ?, perhatikan grafik di bawah yang menunjukkan asset bank sentral Amerika atau yang disebut the Fed. Pada akhir 2008 ketika Amerika berada di puncak krisis finansialnya, tiba-tiba asset the Fed melonjak. Asset ini berupa piutang ke institutsi-institusi keuangan Amerika yang saat itu babak belur dihantam badai krisis. Lantas dari mana the Fed tiba-tiba memiliki kekayaan (uang) begitu banyak untuk aksi penyelamatan tersebut ?, ya itu tadi mencetaknya dari awang-awang ( dalam bahasa inggris sering disebut printing money from thin air) atau bahkan tidak perlu mencetaknya sama-sekali – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputer – lantas pasar menyebutnya dengan nama keren Quantitative Easing. Source : Cleveland Fed Bagaimana sih sebenarnya mereka melakukan ini ?. Berikut adalah gambaran sederhananya dari cara kerja mereka.
Tentang teori deret Fibonacci, saya pernah menulisnya hampir tiga tahun lalu untuk menggambarkan penurunan nilai mata uang kertas. Kemudian saya juga telah menulis tentang teori peluruhan eksponensial sekitar 8 bulan lalu untuk menguatkan hal yang sama. Kini saya akan menggunakan dua teori tersebut untuk menjawab salah satu pertanyaan pembaca setia situs ini, yaitu seperti apa kiranya harga emas sepuluh tahun dari sekarang. Sebelum saya uraikan aplikasi dari teori-teori tersebut, perlu saya jelaskan bahwa tidak ada seorang ahli-pun di dunia yang bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang – demikian pula dengan saya. Yang saya lakukan hanyalah mengolah data statistik harga emas dan nilai tukar Rupiah, kemudian menggunakannya dengan asumsi – bahwa peristiwa-peristiwa yang akan datang – tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Untuk menduga harga emas 10 tahun yang akan datang, saya gunakan statistik harga emas dalam US$/Oz dan dalam Rp/Gram selama 40 tahun terakhir 1970 – 2010 yang sudah saya muat dalam tulisan tanggal 1 November 2010 di situs ini. Dari statistik tersebut diatas, kita tahu bahwa seama 40 tahun terakhir – harga emas dunia rata-rata 2010 (sampai Oktober) dalam US$/Oz telah mengalami kenaikan sebesar 33 kali dibandingkan harga emas rata-rata tahun 1970; atau dalam Rupiah selama periode yang sama harga emas telah mengalami kenaikan sebesar 749 kali. Dari data ini bila kita konversikan dengan bilangan Fibonacci (perkalian 1.618) dan waktu paruh US$ maupun Rupiah (yang berarti perkalian 2.0 untuk harga emas) ; maka selama 40 tahun terakhir dapat kita sarikan dalam tabel dibawah : Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Estimasi Harga Emas 10 Tahun Pengunjung mencari info tentang :prediksi harga emas 10 tahun kedepanprediksi harga emas 10 tahun mendatangperkiraan harga emas 5 tahun kedepangrafik harga emas 30 tahun terakhirgrafik harga emas 40 tahun terakhirprediksi harga lm 10thn kedepanasumsi harga emas 5 tahun mendatangPerkiraan harga emas 10tahun mendatangprediksi harga emas 10 tahun yg akan datangprediksi lm 3 thn kedepan
Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi “gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah”. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang membuat para gajah tersebut bertarung – tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula – maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse ? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya – yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia. Pertarungan yang disebut competitive devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam dua tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana 2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises – semacam BUMN kitalah – yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya dua tahun silam. Ini situasi ‘jeruk makan jeruk’ , yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.
Kurang dari tiga minggu lalu – tepatnya tanggal 11 januari 2008, saya menulis di blog ini bahwa Dinar sedang menuju angka psikologis berikutnya yaitu Rp 1,200,000. Pagi ini analisa tersebut terbukti. Dengan demikian berarti dalam 1 bulan terakhir Dinar melewati dua angka psikologis – setelah tanggal 3 Januari 2005 Dinar melewati angka Rp 1,100,000,-. Hal ini sama sekali bukan berarti saya peramal atau tahu sesuatu sebelum terjadi, tetapi semata karena pola kehancuran uang kertas yang tidak bisa dipisahkan dari riba ini begitu jelas dan dijanjikan sendiri oleh Allah swt. Lihat tulisan saya sebelumnya mengenai Kehancuran Uang Kertas, dan juga tulisan mengenai Harga Dinar. Selain bisa dilihat dari kacamata keimanan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an ; proses kehancuran uang kertas ini juga dapat dilihat dari analisa terhadap realitas pasar. Hal ini bahkan diakui oleh praktisi atau spekulan pasar sekaliber George Soros. Dalam pertemuan di Davos – Swiss pekan lalu ia bahkan mengguncang pasar uang dengan pernyataannya bahwa penurunan nilai Dollar sekarang ini akan menuju berakhirnya dominasi mata uang Dollar yang berlaku di dunia saat ini. Kenyataan ini membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada mata uang kertas yang bisa berumur panjang. Keberadaannya bisa jadi akan tetap dipaksakan, tetapi nilainya tidak ada. Ketidak percayaan pasar terhadap Dollar-lah yang menjadi penyebab utama melonjaknya harga emas internasional di seluruh perdagangan kemarin. Bukan emasnya yang naik tetapi daya beli Dollar-nya yang semakin menurun. Kalau US Dollar saja yang selama ini dianggap perkasa bisa hancur, apa yang membuat kita percaya bahwa uang kertas kita akan tetap perkasa ? . Perlu diingat bahwa dalam jangka pendek menurunnya nilai Dollar atau naiknya nilai emas ini juga masih sangat kuat dipengaruhi oleh spekulasi pasar bahwa Federal Reserve akan menurunkan lagi suku bunganya secara significant dalam rapat rutinnya tiga hari mendatang. Apabila spekulasi ini tidak terbukti – sangat mungkin harga emas akan turun kembali setelah itu. Apabila harga emas turun awal minggu depan, ini akan bersifat sementara – karena trend utamanya akan tetap naik seperti saya uraikan di beberapa tulisan sebelumnya yang saya sebut diatas. Wallahu A’lam bi Showab. Pengunjung mencari info tentang :analisa george soroskehancuran harga emas 2013harga dinar pagi inikehancuran dollar kembali ke dinar
