Datang langsung (dengan perjanjian):
Ruko Panbil blok C No.12B, Muka Kuning.
Sebelum saya menguraikan lebih jauh tentang krisis financial kambuhan yang (berpotensi) melanda dunia (lagi), terlebih dahulu saya perkenalkan tiga istilah seperti di judul tulisan ini yaitu liquidity, solvency dan competency. Yang saya maksud dengan liquidity disini adalah ketersediaan asset yang mudah dikonversi menjadi cash atau tunai. Solvency adalah kemampuan yang cukup untuk membayar biaya-biaya dan hutang-hutang. Sedangkan Competency adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan dengan standar yang diperlukan. Berdasarkan pengertian tersebut diatas, maka bisa saja kita memiliki uang tunai banyak (liquid), tetapi bila seluruh uang dan asset kita tidak cukup untuk membayar kebutuhan dan hutang-hutang – maka kita disebut tidak solvent atau insolvent. Bisa pula terjadi, uang tunai tersedia banyak – tetapi kita tidak bisa mengelola uang tersebut secara memadai untuk mengatasi berbagai persolan rumah tangga kita, atau uang tersebut bukan hasil dari kemampuan kerja kita – maka kita disebut tidak competent atau incompetent. Sekarang kita lihat dalam skala makro yaitu krisis keuangan global yang belum sembuh benar dari krisisnya dua tahun lalu dan kini sudah sangat kuat gejala-gejalanya untuk timbulnya krisis sejenis dalam waktu dekat. Bila sebuah penyakit sulit disembuhkan dan cenderung kumat lagi, (seolah) sembuh sebentar kemudian kumat lagi dan seterusnya. Apa kira-kira penyebabnya ?, kemungkinan besar penyakitnya sendiri yang memang membandel yaitu jenis penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan atau dokternya yang salah diagnosa. Untuk system keuangan kapitalis ribawi global saat ini, nampaknya kombinasi dua hal tersebut yang terjadi. Pertama penyakit riba sendiri memang tidak bisa disembuhkan karena Allah sudah mengabarkan pasti dimusnahkannya riba (QS 2 : 276), kedua sangat bisa jadi para ‘dokter’nya system keuangan global tersebut telah salah mendiagnosa penyakit yang ada – sehingga penanganannya-pun tentu salah. Tuduhan salah diagnosa ini juga tidak main-main, tuduhan ini datang pertama kali dari sesama ‘dokter’ keuangan kapitalis ribawi – karena sesama ‘dokter’ biasanya saling tahu ilmu sejawatnya – maka sangat bisa jadi tuduhan ini benar adanya. Salah diagnosa-nya ‘penyakit’ yang menimbulkan krisis keuangan global saat ini terungkap dari tuduhan blak-blakan yang dilontarkan oleh menteri keuangan Jerman Wolfgang Schauble atas tindakan yang dilakukan ‘sejawat’nya the Fed Chairman Ben Bernanke dari Amerika dalam forum G-20 belum lama ini. Pengunjung mencari info tentang :contoh kasus insolvencyistilah Solvencypengertian insolvensypenyebab insolventsolvency adalah
Bagi Anda dan saya, umumnya kita hanya bisa menambah asset dengan bekerja keras kemudian mendapatkan gaji bagi yang bekerja atau mendapatkan untung bagi yang berwirausaha. Perusahaan-pun demikian, asset bersih-nya hanya bertambah bila perusahaan bekerja keras dan sukses mendapatkan untung. Tidak demikian halnya dengan institusi yang namanya bank sentral, mereka bisa mencetak uang dari awang-awang atau bahkan sama sekali tidak perlu mencetaknya – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputernya – bahwa asset mereka bertambah – maka asset mereka-pun bertambah !. Mau lihat buktinya secara nyata ?, perhatikan grafik di bawah yang menunjukkan asset bank sentral Amerika atau yang disebut the Fed. Pada akhir 2008 ketika Amerika berada di puncak krisis finansialnya, tiba-tiba asset the Fed melonjak. Asset ini berupa piutang ke institutsi-institusi keuangan Amerika yang saat itu babak belur dihantam badai krisis. Lantas dari mana the Fed tiba-tiba memiliki kekayaan (uang) begitu banyak untuk aksi penyelamatan tersebut ?, ya itu tadi mencetaknya dari awang-awang ( dalam bahasa inggris sering disebut printing money from thin air) atau bahkan tidak perlu mencetaknya sama-sekali – cukup mengetikkan beberapa digit angka di komputer – lantas pasar menyebutnya dengan nama keren Quantitative Easing. Source : Cleveland Fed Bagaimana sih sebenarnya mereka melakukan ini ?. Berikut adalah gambaran sederhananya dari cara kerja mereka.
Dua pekan lalu saya menulis tentang hasil pertemuan tingkat menteri keuangan dan para gubernur bank sentral negara-negara G-20 yang telah memberikan noise pada pasar emas dunia. Seperti memberikan ‘angin surga’ hasil pertemuan para petinggi otoritas keuangan dunia tersebut sejenak meredam issue currency war yang semakin imminent saat itu. Sejenak pula harga emas sempat turun karena dunia berharap bahwa currency war tidak terjadi. Namun realita yang terjadi kemudian ternyata sangat berbeda dengan apa yang dijanjikan oleh para petinggi keuangan G-20 tersebut, the Fed-nya Amerika bahkan memberikan signal dan bukan hanya noise – bahwa dideklarasikan ataupun tidak – perang mata uang itu sungguh terjadi. Tindakan the Fed untuk mencetak uang dari awang-awang dengan bahasa kerennya Quantitative Easing (QE) sampai US$ 600 Milyar yang akan diimplementasikan sampai pertengahan tahun depan – adalah signal bahwa US$ akan terus dibuat melemah dalam waktu yang panjang. Mengapa ini bukan juga noise seperti yang dihasilkan oleh pertemuan petinggi keuangan G-20 ?. Disinilah bedanya. Ketika para pejabat tinggi Negara-negara G-20 bertemu, mereka akan cenderung saling berkata manis satu sama lain – seolah-olah tidak ada masalah diantara mereka. Hasil pertemuan ha ha hi hi inilah yang kemudian disampaikan ke media bahwa mereka sepakat untuk berbuat ini – itu yang meredam isu perang mata uang misalnya. Media kemudian menyebar luaskan hasil pertemuan tersebut sebagai positif dlsb. Maka pasar-pun sesaat terpengaruh dan berharap banyak bahwa kesepakatan-kesepakatan tersebut benar adanya. Saya katakan sesaat karena setelah mereka tahu realitanya, situasi akan segera berbalik seperti setelah adanya keputusan the Fed tersebut. Karena dampaknya yang sesaat inilah maka hasil pertemuan-pertemuan G-20 tersebut saya kategorikan sebagai noise saja.
Burung kecil canary (Serinus canaria domestica) yang hidup di sekitar tambang batu bara – biasanya akan mati terlebih dahulu bila ditambang tersebut muncul carbon monoksida, gas methane atau gas beracun lainnya yang melebihi ambang batas aman. Para pekerja tambang harus segera meninggalkan tambang ketika melihat butung canary ini pada mati. Burung canary menjadi semacam ‘early warning system’ bagi para pekerja tambang batu bara – sehingga muncullah kiasan dalam bahasa Inggris yang berbunyi “canary in the coal mine” yang artinya kurang lebih ya peringatan dini tersebut. Peringatan dini inilah yang diingatkan oleh Alan Greenspan mantan Chariman of The Fedselama dua dasawarsa dalam seperempat abad terakhir. Kita tahu dalam hal uang fiat – uang yang tidak memiliki nilai intrinsik, nilainya tidak tergantung dengan benda fisiknya – masyarakat ekonomi dunia mengenal pemain utamanya adalah The Fed-nya Amerika. Nilai US$ yang ‘dikendalikan’ oleh The Fed ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung ke seluruh perekonomian dunia karena US$ juga menjadi reserve currency di hampir seluruh negara di Dunia. Tokoh yang sangat menentukan dalam ‘pengendalian nilai US$’ ini di Amerika selama beberapa dasawarsa terakhir ya Alan Greenspan tersebut diatas – yang menjabat sebagai Chairman of The Fed selama 20 tahun sampai pensiun empat tahun silam (2006). Ironinya adalah ‘guru’ uang fiat dunia tersebut ternyata selama ini juga tidak mempercayai nilai uang fiat itu sendiri. Dalam pernyataannya di depan Council on Foreign Relations yang dimuat di The New York Sun dua hari lalu misalnya, Greenspan mengeluarkan beberapa ‘pengakuan’ yang sayangnya tidak dia keluarkan selagi dia masih menjabat dahulu. Beberapa pengakuan yang mengejutkan para pengagung uang fiat tersebut antara lain adalah sbb : “Fiat money has no place to go but gold,” “If all currencies are moving up or down together, the question is: relative to what? Gold is the canary in the coal mine. It signals problems with respect to currency markets. Central banks should pay attention to it.” Pengunjung mencari info tentang :harga emas tahun 1987Harga emas 1987harga emas di tahun 1987harga emas pada tahun 1987harga emas th 1987
