Lompat ke konten
Home » Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak?

Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak?

Bagi Anda yang berpenghasilan US$ namun pengeluaran dalam Rupiah, setahun terakhir Anda mungkin merasakan uang Anda lebih cepat habis karena biaya hidup yang bertambah mahal. Hal ini adalah karena penghasilan Anda dalam US$ bila dikonversikan ke Rupiah setahun terakhir mengalami penurunan sekitar sekitar 5 % dari US$ 1 = Rp 9,450 (oct’ 09) ke US$ 1 = Rp 8,940 (oct’ 10). Tetapi bagi kita yang berpenghasilan Rupiah dan pengeluaran juga dalam Rupiah, mengapa biaya hidup juga tetap bertambah berat ?.

Inilah efek dari pengukuran relatif.  Bila Anda mengemudi kendaraan mundur, kemudian disamping Anda ada mobil lain yang juga mundur dengan kecepatan lebih tinggi – maka mobil Anda terasa relatif berjalan maju ketimbang mobil lain yang mundur lebih cepat tersebut. Inilah yang terjadi mengapa para ekonom sekalipun, saat ini mengira bahwa Rupiah sedang menguat – tidak ada yang mengatakan melemah – dalam setahun terakhir karena acuannya selalu US$ – yang lagi melaju mundur dengan kecepatan lebih tinggi.

Untuk mengetahui kearah mana mobil Anda berjalan, tidak bisa membandingkannya dengan arah mobil lain yang juga sedang berjalan. Anda harus melihat ke-arah pohon, bangunan atau benda lain yang tidak bergerak, baru Anda tahu apakah mobil Anda sedang berjalan mundur atau maju.

Dalam hal mata uang seharusnya melemah atau menguatnya tidak diukur relatif terhadap mata uang lain, tetapi diukur dari daya belinya terhadap benda riil yang kita butuhkan. Ketika Rupiah saat ini dikatakan menguat sekitar 5 %, ternyata Indek Harga Konsumen (IHK) menunjukkan kenaikan sampai 5.8 % (year on year sept’09 – Sept’10 ).

Jadi menurut data resmi pemerintah sekalipun, beban biaya hidup kita semua setahun terakhir 5.8% lebih berat karena faktor inflasi ini. Inipun bisa jadi belum mencerminkan kenaikan biaya hidup yang sesungguhnya yang kita hadapi, karena perhitungan Indeks Harga Konsumen memang dihitung dari sejumlah barang yang belum tentu semuanya terkait langsung dengan yang kita butuhkan sehari-hari.

Sebagai pembanding, emas atau Dinar per pagi ini misalnya mengalami kenaikan diatas 21 %  dibandingkan harga emas setahun terakhir seperti nampak  pada grafik tahunan yang selalu tampil up-to date di www.batamdinar.com, padahal pada periode yang sama data resmi inflasi masih akan di kisaran 6 % atau kurang.

Karena harga emas atau Dinar terbukti stabil untuk mengukur harga benda riil (kambing) selama lebih dari 14 Abad, maka harga emas-pun semestinya akurat untuk mendeteksi harga-harga benda riil lain yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari hingga kini. Grafik dibawah menunjukkan perbandingan harga emas bila dihitung dengan data inflasi dengan harga emas riil di pasar.

Harga riil emas vs harga teoritis inflasi

Baca Selanjutnya
Peradaban Barat Yang Memiskinkan Kelas Menengah

Jadi beban hidup kita terasa berat semua selama setahun terakhir ini karena rata-rata penghasilan kita dalam Rupiah ataupun Dollar. Kemudian biasanya penghasilan ini disesuaikan (dinaikan) secara berkala oleh perusahaan – menyesuaikan tingkat inflasi. Namun karena tingkat inflasi ini belum tentu mencerminkan kenaikan harga yang sesungguhnya terhadap benda riil yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari,  maka bisa jadi kenaikan penghasilan secara reguler tersebut belum juga memadai untuk mengimbangi kenaikan harga-harga yang riil di pasar.

Lantas apa kira kira solusinya ?, agar win-win antara pekerja dengan pemberi kerja solusi yang terbaik adalah para pekerja bekerja lebih keras untuk meningkatkan produktifitas perusahaan/instansi tempatnya bekerja ; sedemikian rupa sehingga pemberi kerja yang adil akan mampu memberikan gaji dalam bentuk setara emas atau Dinar; atau kalau gaji masih dalam Rupiah/Dollar – kenaikan berkalanya merefer pada kenaikan harga emas.

Gaji dalam Dinar …Siapa mau ?. Insyaallah kami siap membantu mengimplementasikannya bila perusahaan atau instansi Anda memerlukannya.

Malcare WordPress Security