Investasi : Ketika Biji Tumbuh Menjadi Kecambah

Gold Investment growth

Gold Investment growthKemarin adalah hari perdagangan yang buruk bagi bursa saham hampir di seluruh dunia, indeks harga saham berguguruan tidak terkecuali di Indonesia yang mengalami penurunan hingga 5.64 %. Pemicunya antara lain adalah sentiment negeatif dari negeri yang nun jauh di belahan Eropa sana yaitu Yunani, Setelah berbagai upaya penyelamatan selama berbulan-bulan – ternyata negeri itu kini  malah memasuki spiral kematiannya – hutangnya semakin menumpuk dan gagal untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi di negerinya.  Tetapi problem semacam ini sebenarnya bukan hanya monopoli Yunani, kondisi negeri adikuasa-pun sebenarnya tidak jauh lebih baik dari ini.

Itulah sebabnya ketika para pemain pasar melihat ada negeri yang (cenderung) gagal seperti Yunani tersebut diatas, pikirannya langsung menerawang jauh bahwa yang demikian itu – sangat bisa jadi juga terjadi di negerinya masing-masing. Kekawatiran massal ini kemudian mendorong perilaku yang sama yaitu menjauhi investasi-investasi yang berupa kertas, dan mengamankannya ke investasi fisik – salah satunya emas.

Mungkin Anda berpendapat bahwa krisis di pasar, anjlognya harga saham dan lain sebagainya hanya berpengaruh terhadap orang-orang kaya yang punya deposito, punya investasi di saham, reksadana dlsb. ? Tidak, justru pengaruhnya lebih banyak pada orang-orang kebanyakan, masyarakat pekerja pada umumnya. Mengapa demikian ?

Orang-orang kaya yang punya deposito, saham dan sejenisnya, mereka dapat mengendalikan langsung investasinya – meskipun sering juga jeblog – tetapi setidaknya mereka punya pilihan. Mereka bisa mengalihkan investasinya ke jenis-jenis investasi yang aman kapan saja mereka mau.

Tidak demikian halnya dengan masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki kontrol langsung terhadap investasi dari kekayaan mereka satu-satunya. Asset yang sangat  berharga bagi kalangan masyarakat pekerja adalah tabungan hari tua, dana pension, asuransi, dana kesehatan dlsb. yang rata-rata dikelola oleh perusahaan atau instansi lain yang diluar kontrol mereka secara langsung.

Seandainya toh Anda sangat paham trend penurunan harga saham, Anda juga paham inflasi yang menggerogoti daya beli uang kertas manapun di dunia – bila Anda tidak memiliki kendali terhadap proses pengambilan keputusan terhadap tabungan jangka panjang Anda – tetap saja tidak banyak yang Anda bisa lakukan untuk mengamankannya.

Tetapi seandainya Anda kini punya kewengangan penuh untuk menentukan investasi apa yang paling baik untuk uang Anda, apa pilihannya ? Yang saya jagokan tetap sektor riil yang Anda bisa/ mampu mengelolanya dengan baik. Banyak sektor-sektor perdagangan, kerajinan, industri kreatif, manufacturing, pertanian, peternakan dan lain sebagainya yang bisa jadi sangat cocok dengan Anda.

Potensi sektor pertanian dalam meningkatkan nilai (value creation) misalnya, bisa amat sangat besar diluar pikiran para paper investors. Ketika biji (apapun) ditumbuhkan menjadi kecambah dalam dua – tiga hari, maka beratnya meningkat antara 10 sampai 15 kali dari beratnya semula. Kandungan protein kecambah tertentu (misalnya kecambah Alfalfa) bisa mencapai 35 %, bandingkan ini misalnya dengan daging sapi ataupun daging ayam yang kandungan proteinnya berada di kisaran 25%. Bisa Anda bayangkan peluang yang ada di kecambah ini ?. Berapa tahun Anda perlukan untuk menumbuhkan investasi kertas Anda untuk tumbuh 10 – 15 kalinya ?

Baca Selanjutnya
Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan?

Dengan memberi contoh ini, tidak berarti saya mengajak rame-rame terus pindah investasi membuat kecambah atau bahkan rame-rame makan kecambah saja. Ini hanya untuk ilustrasi, betapa peluang meningkatkan nilai ini melimpah di luar sana, sehingga ketika harga saham jatuh dan daya beli uang kertas hancur – Anda sebenarnya memiliki banyak pilihan.

Tidak akan mudah memang, tetapi bila Anda terjun kedalamnya dan bener-bener menekuninya – insyaAllah juga tidak ada yang mustahil.

Wa Allahu A’lam.