Ketika Harga Minyak Jatuh (Lagi)

Hari-hari ini harga minyak mentah dunia jatuh ke titik terendah dalam 11 tahun terakhir, saat ini sudah dibawah US$ 30/barrel. Sedikit yang kita bisa rasakan adalah adanya penurunan harga BBM, namun dampak ekonomi secara keseluruhan tidaklah sederhana. Bukan hanya para pekerja di sektor perminyakan yang terancam pekerjaannya, tetapi di berbagai sektor lain juga bisa terseret dengan kejatuhan harga minyak ini. Ada  yang perlu kita waspadai agar tidak ikut menjadi korban berikutnya dari trend yang satu ini.

Harga Minyak Dunia dan Komoditi Pertanian

Pertama yang ikut turun drastis dari anjloknya harga minyak adalah komoditi substitusinya seperti minyak sawit. Harga minyak sawit dunia kini berada pada kisaran angka US$ 500/MT atau kurang dari separuh dari harga minyak sawit dunia pada titik tertingginya tahun 2008 di kisaran angka US$ 1,150/MT.

Di Indonesia ada sekitar 11 juta hektar kebun sawit dan lebih dari 4 juta orang tenaga kerja, bisa dibayangkan dampak seriusnya penurunan harga minyak dunia tersebut pada industri sawit dan tenaga kerjanya bila penurunan harga tersebut terus berlangsung.

 

Padahal industri sawit bukan hanya satu-satunya yang terkena, bahkan harga beras dunia-pun ikut jatuh mengikuti jatuhnya harga minyak. Harga beras dunia yang pernah mencapai US$ 1,000/MT di bulan April-Mei 2008, kini harganya hanya di kisaran US$ 350/MT.

Harga Emas Dunia terhadap Minyak dan Komoditas Pertanian

Bukankah ini baik untuk kita yang makan beras dan sebagian beras kita masih diimpor ? Tidak juga karena harga beras dunia yang hanya di kisaran separuh dari harga pokok beras dalam negeri bisa mengancam kelangsungan kehidupan petani beras kita. Padahal di sektor ini ada sekitar 13 juta hektar sawah yang digarap, kalau diambil rata-rata 2 orang pekerja saja per ha/nya – ada 26 juta orang bekerja di sektor per-berasan.

 

Komoditi pertanian secara umum juga terkena dampak dari penurunan harga minyak dunia tersebut, hanya sedikit sekali komoditi atau hasil pertanian yang sejauh ini tidak terkena dampaknya. Di sektor buah yang tidak terpengaruh sejauh ini adalah buah pisang yang harganya di pasarn dunia masih di kisaran US$ 930/MT, dan di sektor daging yang tidak terpengaruh adalah daging ayam yang masih bertengger di kisaran angka US$ 2,300/MT.

Harga Pangan Dunia

Bagaimana dengan emas ? ketika komoditi-komoditi umumnya jatuh, harga emas juga ikut turun. Tetapi penurunan harga emas tidak sedrastis penurunan komoditi lainnya, ini membuktikan ketahanan daya beli emas selama tiga dasawarsa terakhir. Tiga puluh tahun lalu harga 1 troy ounce emas setara dengan 1 metric ton minyak sawit, kini 1 troy ounce emas setara dengan 2 metric ton minyak sawit.

 

Terhadap minyak mentah lebih meningkat lagi daya belinya, tiga puluh tahun lalu 1 troy ounce emas setara 12 barrel minyak mentah, kini 1 troy ounce emas yang sama mendapatkan sekitar 30 barrel minyak mentah. Sedangkan terhadap pisang yang harganya terus meningkat, daya beli emas relatif stabil di kisaran 1.1 ton pisang untuk 1 troy ounce emas.

 

Terhadap kebutuhan pokok kita beras di pasar internasional, daya beli emas juga meningkat tajam ketika harga beras jatuh seperti saat ini. Setelah berpuluh tahun 1 troy ounce emas setara kisaran 1.4 ton beras, kini cukup untuk membeli sampai 3 ton beras di pasar internasional.

Baca Selanjutnya
Likwiditas Dinar : Dimana Anda Bisa Menukarkan Dinar Anda …?

 

Pertanyaannya adalah apakah trend kedepan akan terus berlangsung rezim harga minyak yang rendah yang ikut membahayakan sejumlah sektor ini ? Harga minyak mentah dunia tidak pernah berhenti pada sektor ekonomi. Pergerakan liar harganya juga sangat dipengaruhi oleh situasi geopolitik para negara-negara produsennya.

 

Kita tahu bahwa harga minyak yang rendah bisa digunakan untuk melemahkan kekuatan ekonomi negara-negara produsennya, sedangkan top 10 produsen minyak dunia adalah negara-negara yang saat ini saling bersengketa dan berebut pengaruh – maka bisa dibayangkan apa saja yang sudah dan akan mereka lakukan dengan minyaknya.

 

Di antara Top 10 negara produsen minyak ini setidaknya 7 diantaranya termasuk yang saya sebut sedang bersengketa satu sama lain atau sedang berebut pengaruhnya, yaitu Saudi Arabia, Iran, Iraq, UAE, Amerika, Russia dan China. Tanpa kita sadari pertengkaran diantara mereka bisa membahayakan lapangan kerja kita di sektor perminyakan dan bahkan juga merembet ke sebagian sektor pertanian.

 

Di sisi lain, harga minyak tentu juga dipengaruhi oleh kepentingan bisnis. Ketika para produsen berebut pangsa pasar atau setidaknya berusaha mempertahankan pangsa pasarnya – sementara permintaan lagi rendah, maka perebutan pasar yang berdarah-darah di red ocean terus memberi dorongan kuat untuk turunnya harga minyak.

 

Lantas apa yang bisa kita lakukan bila trend penurunan harga minyak tersebut terus memburuk ?

 

Bagi para pemimpin dan pengambil keputusan, rendahnya harga minyak mentah dunia ini tidak boleh melenakan mereka dari terus pencarian dan penyiapan energi baru dan terbarukan (EBT). Investasi baru di bidang energi tentu kurang menarik dilakukan saat ini karena rendahnya nilai jual energi secara keseluruhan, tetapi bila ini tidak dilakukan – kita akan mengalami seperti ketika terjadi huru hara tortilla di Meksiko – bila harga minyak tiba-tiba melonjak kembali karena satu dan lain hal.

 

Bagi masyarakat awam seperti kita-kita, juga jangan terlena dengan rendahnya harga BBM saat ini. Harga BBM bisa saja kembali melonjak setiap waktu dan juga bahkan bisa mengalami kelangkaan. Maka kita harus mulai berfikir beyond fossil-based economy, yang sudah kita rintis melalui situs ini – baik pemikiran dan exercises-nya adalah mulai membangun kompetensi di bidang bioeconomy – yang bukunya-pun Alhamdulillah sudah kita released untuk bisa di download secara gratis.

 

Bila aktivitas di sektor riil bioeconomy inipun belum bisa kita lakukan, maka apa yang sudah kita lakukan bersama selama 8 tahun terakhir yaitu menggunakan emas atau Dinar sebagai proteksi nilai – terbukti dari berbagai statistik di atas – efektif untuk mempertahankan daya beli kita.

 

Mudah-mudahan hal kecil ini bisa menjadi salah satu persiapan kita untuk bisa survive bila konspirasi harga minyak dunia tersebut terus berkembang menjadi bola liar yang berdampak kemana-mana.