Muhaimin Iqbal

Ketika Harga Minyak Jatuh (Lagi)

Hari-hari ini harga minyak mentah dunia jatuh ke titik terendah dalam 11 tahun terakhir, saat ini sudah dibawah US$ 30/barrel. Sedikit yang kita bisa rasakan adalah adanya penurunan harga BBM, namun dampak ekonomi secara keseluruhan tidaklah sederhana. Bukan hanya para pekerja di sektor perminyakan yang terancam pekerjaannya, tetapi di berbagai sektor lain juga bisa terseret dengan kejatuhan harga minyak ini. Ada  yang perlu kita waspadai agar tidak ikut menjadi korban berikutnya dari trend yang satu ini.

Harga Minyak Dunia dan Komoditi Pertanian

Pertama yang ikut turun drastis dari anjloknya harga minyak adalah komoditi substitusinya seperti minyak sawit. Harga minyak sawit dunia kini berada pada kisaran angka US$ 500/MT atau kurang dari separuh dari harga minyak sawit dunia pada titik tertingginya tahun 2008 di kisaran angka US$ 1,150/MT.

Baca Selengkapnya »Ketika Harga Minyak Jatuh (Lagi)

Emas Dan Sinyal Perubahan Ekonomi Dunia

Ada dua hal yang mendorong harga emas naik hampir 8.5 % dalam satu bulan terakhir dan bisa saja ini berlanjut. Pertama perubahan yang dipicu oleh ketidak stabilan baru ekonomi dunia karena merosotnya harga minyak, dan yang kedua disebabkan oleh apa yang disebut SNB (Swiss National Bank) Black Swan – yaitu kejadian sangat langka/tidak terduga yang dilakukan oleh otoritas moneter Swiss. Keduanya menjadi pelajaran sangat penting bagi negeri ini – bila tidak ingin  menjadi korban dari adanya perubahan-perubahan paradigma ini.

Pertama yang terkait dengan harga minyak, sebagai negeri pengimpor netto minyak (net importer) untuk sementara waktu tentu kita diuntungkan dengan harga minyak dunia yang telah mengalami penurunan sekitar 58 % selama enam bulan terakhir. Harga BBM kita yang sempat melonjak tanpa alasan yang jelas akhir tahun lalu pun – kini diturunkan kembali mendekati harga sebelum lonjakan tersebut terjadi.

Baca Selengkapnya »Emas Dan Sinyal Perubahan Ekonomi Dunia

Uang Baru dan Pemerintahan Baru

Siapapun yang akhirnya nanti menggantikan pemerintahan yang sekarang akan disambut dengan uang yang baru. Uang yang baru ini akan secara tegas menyebutkan bahwa ini adalah uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ditanda tangani oleh Gubernur BI dan Menteri Keuangan, selama ini uang kita bukan uang NKRI tetapi uang Bank Indonesia.  Yang lebih serius dari ini adalah dalam periode pemerintahan yang akan datang – besar kemungkinan redenominasi mata uang Rupiah harus dilakukan.

RUU untuk redenominasi Rupiah ini sebenarnya sudah disampaikan pemerintah ke DPR  dan bahkan seharusnya masuk prioritas Prolegnas tahun 2013, namun karena redenominasi yang akan mengurangi tiga angka nol pada uang kita tersebut juga beresiko – maka pembahasannya nampaknya ditunda.

Resiko ini diungkapkan bahkan oleh menteri keuangan Republik Indonesia sendiri melalui situs resmi Departemen Keuangan, apabila gagal rencana redenominasi tersebut akan berdampak terhadap inflasi yang akan menjadi tingggi. “ Ada resiko inflasi. Kalau situasinya sudah lebih baik mungkin (redenominasi Rupiah) bisa dilakukan” ujar Menkeu.

Baca Selengkapnya »Uang Baru dan Pemerintahan Baru

The Death of Money

Judul tulisan ini saya ambilkan dari buku yang terbit sekitar tiga bulan lalu karya penulis best seller James Rickards. Judul lengkap buku tersebut adalah The Death of Money – The Coming Collapse of The International Monetary System. Menurut si penulis ini system moneter internasional telah gagal setidaknya tiga kali sepanjang abad lalu yaitu tahun 1914, 1939 dan 1971. Sedangkan kegagalan berikutnya dia katakan sebagai maelstrom to come – peristiwa yang cepat sekali datangnya !

Kegagalan system moneter tahun 1914 di-trigger  oleh Perang Dunia I yang kemudian diikuti oleh hyperinflation dan depression  antara tahun 1919 sampai 1922. Kegagalan tahun 1939 juga disebabkan oleh perang yaitu Perang Dunia II dan baru sembuh ketika dunia menyepakati Bretton Woods Systems di akhir PD II – ketika system keuangan dunia dikaitkan langsung dengan emas.

Baca Selengkapnya »The Death of Money