dinaria

Dinaria Episode 011 : Generasi Asset Bukan Generasi Liability

Salah satu tantangan terbesar bagi pemimpin Dinaria adalah bagaimana me-restorasi generasi yang telah dirusak oleh peradaban sebelumnya. Peradaban sebelumnya ini dicirikan oleh banyaknya ilmu sedikitnya amal, sumber daya melimpah tetapi mayoritas penduduk negeri justru miskin, konsentrasi kemakmuran ke segelintir orang, pemimpin a la demokrasi yang lalai memperhatikan kepentingan rakyat serta krisis pemenuhan kebutuhan pokok berupa makanan, air dan energi.

Sang Pemimpin melihat semua masalah ini saling terkait satu sama lain, maka solusinya-pun harus integratif meng-address seluruh masalah secara sekaligus – bukan masalah ayam dan telur yang mana yang lebih dahulu harus diatasi.

Baca Selengkapnya »Dinaria Episode 011 : Generasi Asset Bukan Generasi Liability

Dinaria Episode 010 : The Cave

Ketika kekufuran, kerusakan dan kedhaliman sudah begitu meluas di dunia, Sang Pemimpin berusaha membangun pertahanan bagi rakyatnya – agar mereka bisa mempertahankan keimanannya dan tetap bisa hidup di jalan yang lurus. Cara yang efektif adalah membangun komunitas-komunitas masyarakat yang bisa saling menjaga dan mencukupi. Komunitas ini tinggal dalam suatu lingkungan yang disebut The Cave , Al-Kahfi atau Gua, tempat yang kebal dari pengaruh luar !

Dengan jumlah penduduk bermilyar yang melingkupi kurang lebih separuh penduduk bumi, tidak ada gua yang cukup besar untuk menampung rakyat Dinarian saat itu, tidak juga ada cukup desa yang bisa mejadi tempat tinggalnya. Maka The Cave terwujud dalam berbagai bentuknya, bisa berupa lingkungan fisik, bisa berupa lingkungan virtual. Bisa terdiri dari desa-desa pertanian yang mandiri, bisa pula berupa apartemen-apartemen bertingkat tinggi di daerah perkotaan.

Baca Selengkapnya »Dinaria Episode 010 : The Cave

Dinaria Episode 009 : Memimpin Melalui Contoh

Suatu hari Sang Pemimpin kedatangan utusan dari wilayah yang jauh yang tidak puas dengan pemimpin daerah atau gubernur-nya. Utusan-utusan daerah ini mengungkapkan kekesalannya : “Wahai Sang Pemimpin, kami mengadukan nasib kami yang didhalimi oleh gubernur kami. Dia mengambil lahan kami dengan alasan untuk pembangunan, dia tidak membayar kami kecuali dengan uang yang sedikit. Dia menerapkan pajak yang berlebihan kepada kami sehingga pendapatan kami selalu tidak cukup. Dia tidak membangun pasar untuk kami sehingga kami tidak bisa melakukan jual beli secara maksimal. Dia tidak membuat pengairan untuk lahan kami sehingga produktifitas pertanian kami sangat rendah. Dia tidak membuat sekolah-sekolah yang baik dan terjangkau sehingga anak-anak kami tidak terdidik.  Dia tidak menjaga daerah kami sehingga banyak perampokan dan kejahatan di daerah kami…”.

Mendengar sumpah serapah rakyatnya yang menjerit karena kedhaliman pemimpin di daerahnya ini, Sang Pemimpin tidak langsung mengambil tindakan ataupun memberi jawaban. Sang pemimpin hanya meyampaikan : “Wahai rakyatku yang mengadu, aku terima aduan kalian ini – tetapi aku belum bisa memberikan jawaban ke kalian ataupun tindakan apa yang akan aku lakukan. Maka kembalilah kalian menemuiku satu bulan sejak sekarang”.

Setelah para utusan tersebut pergi, Sang Pemimpin mengunci kantornya untuk menyendiri berhari-hari. Dia merenungkan apa yang disampaikan oleh rakyatnya tersebut dan berkata pada dirinya sendiri : “bagaimana aku bisa menegur gubernurku, bila aku sendiri tidak yakin dapat memperbaikinya ?”.

Baca Selengkapnya »Dinaria Episode 009 : Memimpin Melalui Contoh

Dinaria Episode 008 : Membangun Karakter Melalui Makanan

Ketika negeri Dinaria terbentuk oleh keinginan bersama rakyat dunia, negeri-negeri geografis yang ada di dunia sedang berada pada puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya –  tetapi mereka juga sedang berada dalam titik nadir dalam hal karakter rakyat dan para pemimpinnya. Kebrutalan, keserakahan, kecurangan, korupsi, ketidak adilan, jual beli hukum dan sejenisnya menjadi hal yang lumrah di masyarakat saat itu. Hadirnya Sang Pemimpin yang menerapkan Undang-Undang dari Sang Pencipta langsung menjadi harapan baru, tetapi dari mana mulai membangun kembali karakter umat yang lagi luluh lantak ini ?

Selain system hukum, ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan dan lain sebagainya yang pada waktunya akan diceritakan secara detil, Sang Pemimpin ingin memulai dengan hal yang relatif lebih ringan tetapi berdampak luar biasa pada karakter bangsa baru yang sedang dibangunnya, mulai dari kepentingan semua rakyatnya, yaitu dari makanannya.

Kebrutalan dan keserakahan rakyat dunia ternyata tidak terlepas dari kebiasaan makan rakyat dunia ketika berada di titik nadir tersebut diatas. Kebiasaan buruk ini terkait dengan cara perolehan makanan, distribusi makanan, jenis makanannya itu sendiri sampai frekwensi berapa kali makan dalam seharinya.

Cara perolehan makanan yang buruk yang tidak halal menghasilkan anak-anak yang sulit dididik. Anak-anak yang sulit dididik ini ketika dewasa akan memperburuk tabiat dalam perolehan makanannya – lebih buruk dari orang tuanya, otomatis anak-anak mereka akan lebih buruk lagi dan seterusnya. Tanpa upaya membalik arah cara-cara perolehan makanan maka generasi demi generasi akan terus mengalami degradasi karakter. Pengawasan pasar dan perilaku pelaku ekonomi menjadi solusi untuk ini.

Distribusi pangan yang tidak adil di seluruh dunia menyebabkan sebagian wilayah dunia sangat kekurangan, sedangkan di wilayah lain berlebihan. Ini menjadi sumber ekploitasi si miskin oleh si kaya. Solusinya negeri baru membentuk badan yang mengelola distribusi pangan ini secara adil, kelebihan produksi dari satu wilayah dibeli dengan harga yang baik oleh negara dan didistribusikan ke daerah yang kekurangan juga dengan harga yang baik.

Baca Selengkapnya »Dinaria Episode 008 : Membangun Karakter Melalui Makanan