investasi

US Shutdown, Sektor Riil dan Emas

Hari-hari ini pemerintahan federal Amerika masih menutup sejumlah layanannya karena tidak ada anggaran untuk membayar gaji para pegawai – setelah terjadi kebuntuan negosiasi anggaran antara pemerintah dengan Congress-nya. Meskipun pelaku pasar umumnya yakin bahwa masalah shutdown tersebut akan teratasi akhirnya, tetapi kejadian ini telah menjadikan ekonomi dunia dalam sandra Amerika dan kini dalam posisi di ujung tanduk.

 

Betapa tidak, bila tidak ada kesepakatan antara Obama dengan Congress yang dikuasai oleh Partai Republik – lawan politiknya – sampai pekan depan (17/10/2013) , maka shutdown tersebut akan berpeluang pada gagal bayarnya sebagian hutang-hutang mereka (default) dan Dollar-pun akan runtuh.

Baca Selengkapnya »US Shutdown, Sektor Riil dan Emas

Dinar Emas Harga Subsidi

Sebenarnya bukan hanya BBM yang disubsidi di negeri ini, terkadang otoritas moneter kita juga secara tidak langsung mensubsidi semua barang yang dibeli dari luar atau dibeli dengan harga Dollar. Bulan Juni lalu saja cadangan devisa kita berkurang lebih dari US$ 7 Milyar atau sekitar Rp 70 Trilyun untuk subsidi tidak langsung ini, diantaranya untuk subsidi emas atau Dinar kita! Kok bisa?
Perhatikan grafik dibawah, data Cadangan Devisa saya kumpulkan dari BI untuk dua tahun terakhir. Sedangkan nilai tukar Rupiah, saya kumpulkan dari Pacific Exchange Rate Service. Dalam dua tahun terakhir ada kecenderungan penurunan cadangan devisa kita – yang mendekati 20 % dalam dua tahun. Sejalan dengan ini, Rupiah juga memiliki kecenderungan turun terhadap Dollar ( dalam grafik Dollar-nya yang naik) – mendekati 17 % pada periode yang sama.

Emas Di Antara Pesimism dan Optimism

Setelah penurunan beruntun harga emas dunia sejak April lalu, tidak dipungkiri bahwa semakin banyak pihak yang pesimis dengan perkembangan harga emas kedepan. Pada saat yang bersamaan tentu masih ada juga yang tetap optimis atau setidaknya mengambil kesempatan dari harga emas yang terdiscount secara besar-besaran ini. Siapa yang pesimis dan siapa yang optimis ?

Yang pesimis pada umumnya adalah para investor dan spekulan yang memandang emas hanya sebagai salah satu instrument investasi saja. Mereka ini antara lain terpersonifikasi pada diri George Soros untuk individual dan Goldman Sachs untuk institusi. Perilaku keduanya terhadap emas telah ikut mendorong jatuhnya harga emas dunia dalam beberapa bulan terakhir.

Yang pesimis ini  jumlahnya sedikit, tetapi mereka inilah yang perkasa di perdagangan emas dunia – terutama yang dalam bentuk paper seperti ETF dlsb. Jadi meskipun jumlahnya sedikit mereka tetap mampu mengguncang dunia perdagangan emas.

Lantas siapa yang masih bisa optimism dan bahkan mengambil kesempatan dalam kejatuhan harga emas dunia ini ? Mereka ini adalah masyarakat yang secara tradisi memang menggunakan emas sebagai bagian dari lifestyle-nya. Masyarakat China dan India yang penduduknya mewakili sekitar 40% dari penduduk dunia, kebutuhan emas fisiknya mewakili sekitar 61 % dari pasar emas fisik dunia.

Baca Selengkapnya »Emas Di Antara Pesimism dan Optimism

Harga Emas Jatuh, Masihkah Berfungsi Sebagai Proteksi Nilai?

Untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir harga emas jatuh, pagi ini harga emas di pasar internasional di kisaran US$ 1,283/ozt dan Dinar berada di kisaran Rp 1,800,000,-. Penyebabnya masih sama yaitu sebagaimana kenaikannya didorong oleh kebijakan Quantitative Easing (QE) the Fed, kejatuhannya juga disebabkan oleh (rencana) penghentian QE ini. Pertanyaannya adalah, masihkah emas atau Dinar efektif untuk instrumen proteksi nilai ?

Untuk menjawab ini saya gunakan dua data, yaitu data inflasi dari Biro Pusat Statistik (BPS) dan data harga emas internasional dari Kitco. Untuk data inflasi BPS, saya hanya dapat data untuk tujuh tahun terakhir yaitu sejak 2007-2013 (yg terakhir ini estimasi). Data ini kemudian saya sajikan dalam grafik berikut.

Baca Selengkapnya »Harga Emas Jatuh, Masihkah Berfungsi Sebagai Proteksi Nilai?