Skip to content
Home » cina

cina

6 Irreversible Trends: Harga Emas di Era Doomy Gloomy-nya US$

Bagi para pembaca yang sempat lemas dengan turunnya harga emas dan Dinar secara drastis sepanjang pekan lalu, tulisan ini barangkali bisa menjadi pengobatnya disamping tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Bijak berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas…”. Tulisan ini saya sarikan dari ceramahnya Nick BarisheffCEO and president of Bullion Management Group Inc.- pada acara seminar Investment Outlook 2011 di Montreal – Canada Jum’at pekan lalu. Menurut Nick ini ada setidaknya enam trend yang akan mendorong harga emas ke atas tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya.

Trend-trend yang oleh Nick dkategorikan sebagai Irreversible – yang tidak berubah atau tidak berbalik arah –  paling tidak sejauh mata dia memandang ini,  adalah sebagai berikut :

1) Central Bank Buying

Pendorong harga emas tahun 2010 antara lain adalah membengkaknya belanja emas yang dilakukan oleh beberapa bank central besar seperti Rusia, China dan India. Cadangan emas Rusia di kwartal ke 3 tahun 2010 saja naik 7 % menjadi 756 ton. China mengimpor hampir 210 ton emas di bulan Desember  2010, sedangkan India pembelian emas oleh bank central-nya plus pembelian swasta  diduga mencapai 750 ton sepanjang tahun lalu.

Trend ini akan terus ada di tahun 2011 dan bahkan tahun-tahun sesudahnya karena untuk membuat cadangan emas Rusia dan China mendekati rata-rata negeri barat saja, Rusia membutuhkan tambahan cadangan sekitar 1,000 ton sedangkan China masih membutuhkan tambahan sekitar  3,000 ton lagi. Demand emas akan terus tinggi , sementara supply relatif tidak banyak perubahan.

Baca Selengkapnya »6 Irreversible Trends: Harga Emas di Era Doomy Gloomy-nya US$

Currency War : Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin-Ngisini

Currency war atau perang mata uang menjadi topik hangat di seluruh dunia sepanjang pekan lalu. Ancaman akan pecahnya perang mata uang ini menjadi semakin serius karena para pemimpin keuangan dunia termasuk didalamnya Bank Dunia dan IMF – dalam pertemuannya di Washington akhir pekan lalu – gagal mengatasi pertikaian dalam masalah daya beli uang kertas ini. Apa maknanya ini bagi kita ?.

Seperti ‘perang’ antar geng atau kelompok masyarakat yang akhir-akhir ini banyak terjadi di tanah air, ‘perang’ mata uang antar negara adalah perang yang sia-sia.  Ada pepatah jawa yang pas untuk menggambarkan situasi ini yaitu Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin- Ngisini ( menang tidak menjadikan terkenal, bila kalah memalukan).

Mengapa demikian ?, mari kita lihat contoh kasusnya yang konkrit pada pertempuran yang sedang terjadi antara Amerika dan China. Amerika terus berusaha menekan China agar secepatnya menaikkan nilai tukar mata uang mereka, karena para produsen di Amerika menuduh nilai tukar Yuan terlalu rendah sampai 40 % dari nilai yang seharusnya.

Akibat nilai tukar Yuan yang begitu rendah, barang-barang yang dihasilkan di China menjadi sangat competitive dibandingkan barang-barang yang diproduksi oleh negara lain – termasuk Amerika. Akibat produknya tidak bisa bersaing dengan barang-barang dari China, maka di Amerika jutaan lapangan kerja di sektor manufactur menghilang dan menjadikan negeri yang seharusnya makmur itu kini juga bergelimang dengan pengangguran.

Kekalahan ini tentu ngisin-ngisini bagi pemerintah Amerika sekarang – karena pemerintahan Obama ternyata juga tidak bisa menciptakan lapangan kerja baru atau bahkan tidak bisa pula sekedar mempertahankan lapangan kerja yang semula ada.

Baca Selengkapnya »Currency War : Menang Ora Kondang, Kalah Ngisin-Ngisini

Harga Emas Dari September Ke September : Seasonal dan Systemic

Ketika saya mulai tertarik mengkaji Dinar bulan September lima tahun lalu (2006), harga emas dunia saat itu masih berada di bawah US$ 600/Oz (September average US$ 598/Oz). Semalam harga emas dunia sempat ditransaksikan di angka US$ 1,275/Oz; dan average bulan ini (sampai tanggal 15) sudah mencapai US$ 1,250/Oz atau lebih dari dua kali lipat dari bulan yang sama lima tahun lewat. Ini menguatkan teori saya tentang peluruhan daya beli mata uang kertas yang memang rata-rata memiliki waktu paruh di kisaran 5 tahun saja !.

Memang teori ini perlu pembuktian secara ilmiah, namun biarlah para ilmuwan yang melakukannya. Sebagai pelaku ekonomi awam, saya sendiri cukup menggunakan pemahaman teori ini untuk menyelamatkan diri dari menjadi korban penurunan nilai mata uang kertas yang begitu terang benderang. Untuk pembuktian ilmiahnya sendiri, saya senang ada peserta Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang insyallah akan menyusun thesis Doktor-nya dengan subject peluruhan daya beli mata uang kertas ini.

Untuk bulan September sendiri, memang bulan ini adalah bulan yang khusus untuk harga emas dunia. Bahwa kenaikan harga emas yang terjadinya secara musiman atau seasonal di awali di bulan September, sudah pernah saya tulis sekitar satu setengah tahun lalu dengan judul Musim Membeli Emas/Dinar. Kenaikan yang bersifat musiman ini juga nampak di grafik dibawah, bila kumulatif kenaikan harga emas selama 5 tahun dari rata-rata tahunan hanya berada di angka 94% selama lima tahun ini; kenaikan kumulatif 5 tahun untuk rata-rata September mencapai 109%.

September Gold Price vs Annual

September Gold Price vs Annual

September Gold Price vs Annual

Baca Selengkapnya »Harga Emas Dari September Ke September : Seasonal dan Systemic

Sophie’s Choice : Ketika Dunia Harus Memilih Dollar Atau…

Pada tahun 1982 ada film dengan latar belakang Perang Dunia ke II yang diberi judul Sophie’s Choice. Film yang meraih banyak piala ini, menceritakan pengalaman seorang ibu (Sophie) dengan dua anaknya – laki (Jan) dan perempuan (Eva)- yang ditahan oleh serdadu musuh. Si ibu diberi tawaran oleh serdadu musuh, salah satu dari anaknya hendak dibunuh – tetapi siibu disuruh memilih yang mana. Bila dia tidak mau memilih – maka keduanya akan dibunuh.

Si ibu tidak bisa memilih, tetapi harus memilih – maka dipilihlah anak laki-lakinya Jan yang tetap hidup dan anak perempuannya Eva yang dibunuh musuh. Pilihan yang amat sangat sulit – sehingga sepanjang sisa hidupnya siibu ini hanya bisa menyesali keputusan yang harus diambilnya.

Judul film ini begitu terkenalnya sehinggan  istilah Sophie’s Choice menjadi istilah baru saat itu untuk menggambarkan bila kita dihadapkan pada suatu kondisi yang sama tidak enaknya – sama seperti istilah ‘Buah Simalakama’ yang kita kenal.

Istilah ini-pun belakangan digunakan oleh para pengamat Dollar untuk menggambarkan kesulitan dunia untuk memilih antara mempertahankan Dollar sebagai reserve currency atau  menggantinya dengan mata uang lain yang belum diketahui apa bentuknya.

Baca Selengkapnya »Sophie’s Choice : Ketika Dunia Harus Memilih Dollar Atau…

Malcare WordPress Security