Lompat ke konten
Home » gold » Halaman 2

gold

Siapa Butuh Redenominasi, Kapan dan Berapa Angka Nol Perlu Dibuang?

Perdebatan mengenai issue redenominasi Rupiah terus berlanjut di media-media sampai hari ini, secara umum kalau saya baca sepintas yang menolak nampaknya lebih banyak dari yang mendukung. Pemerintah dan bahkan Bank Indonesia-pun yang meniup peluit nampaknya cooling down dengan menyatakan bahwa redenominasi Rupiah bukan fokus utama saat ini. Masyarakat tidak perlu cemas karena redenominasi paling tidak – tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Masyalahnya adalah apakah redenominasi Rupiah ini memang perlu ? dan kalau perlu, kapan sebaiknya dilakukan ?.

Untuk menjawab pertanyaan ini menurut saya biar-lah ahlinya yang menjawab yaitu Bank Indonesia. Jangan biarkan para politikus yang menjawabnya, karena justru akan membuat issue redenominasi ini menjadi bola liar yang tidak menguntungkan ekonomi dan tidak menguntungkan rakyat.

Kita semua tahu issue ini tidak popular, para penguasa tentu akan berat hati seandainya harus mengambil keputusan ini karena akan berdampak buruk pada reputasinya.  Sebaliknya lawan-lawan politik dapat menggunakan issue ini untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk meraih simpati rakyat dengan seolah-olah memperjuangkan kepentingan rakyat – dengan menolak redenominasi Rupiah misalnya.

Salah satu cara untuk melihat perlu tidaknya redenominasi dilakukan adalah dengan mengukur daya beli uang fiat terhadap suatu komoditi baku (atau sekelompok komoditi) yang nilainya stabil sepanjang masa. Karena data yang saya punya untuk contoh stabilitas harga sepanjang zaman itu adalah kambing dan emas, maka saya dapat gunakan salah satunya untuk membuat analisa perlu tidaknya redenominasi ini. Diantara keduanya saya pilih emas karena datanya lebih lengkap dan dapat Anda verifikasi dengan berbagai sumber data lainnya seperti kitco.com dlsb.

Baca Selengkapnya »Siapa Butuh Redenominasi, Kapan dan Berapa Angka Nol Perlu Dibuang?

Menduga Harga Emas Dari Pergerakan Barang Di Laut

Diluar data-data resmi pemerintah yang umumnya digunakan untuk indikator ekonomi seperti angka inflasi, tingkat pengangguran, indeks harga konsumen dlsb., para ekonom juga sering menggunakan data lain yang tidak biasa digunakan sebagai indikator ekonomi – namun tidak kalah akurat atau bahkan sering lebih akurat dalam menggambarkan situasi ekonomi global yang sesungguhnya. Diantara data yang tidak biasa ini adalah indeks biaya pengangkutan laut yang dikeluarkan oleh Baltic Exchange –  London.

Indeks yang disebut Baltic Dry Index (BDI) ini menggambarkan tingkat biaya pengangkutan laut dari seluruh dunia. Setiap hari data ini dikumpulkan oleh Baltic dari sejumlah besar broker pengangkutan laut di seluruh dunia, jadi data ini sangat akurat dan up-to-date. Bahkan keakuratan dan ke – up – to -date-annya menyerupai pergerakan harga emas dunia, sehingga dari kedua data ini bisa dianalisa korelasinya.

Bagaimana BDI ini bisa bercerita tentang ekonomi dunia ?, Jumlah kapal-kapal pengangkut di seluruh dunia tidak bisa bertambah atau berkurang secara drastis, artinya supply kapasitas kapal relatif stabil atau kalau toh bertambah bertambah secara gradual dengan persentase pertambahan yang sangat kecil. Dari supply kapasitas pengangkutan yang relatif stabil tersebut, bila jumlah barang yang perlu diangkut (demand pengangkutan) besar maka harga akan naik – dan sebaliknya bila jumlah barang yang perlu diangkut sedikit maka – akan terjadi persaingan yang hebat antar perusahaan pengangkutan laut sehingga harga pengangkutan akan jatuh.

Ketika dunia mengalami krisis ekonomi secara serius , konsumsi barang dunia berkurang drastis sehingga yang perlu diangkut di laut juga turun secara drastis pula. Harga-harga pengangkutan laut-pun anjlog oleh sebab demand yang rendah.  Perhatikan grafik BDI dibawah untuk catur wulan terakhir 2008.

2 Tahun BDI (Baltic Dry Index)

Dua Tahun Baltic Dry Index (BDI)

Baca Selengkapnya »Menduga Harga Emas Dari Pergerakan Barang Di Laut

Harga Emas : Antara Selera dan Realita

Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini. Mengapa demikian ?, karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.

Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah di riset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.

Pola tanam (bisa juga dibaca : investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.

Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Baca Selengkapnya »Harga Emas : Antara Selera dan Realita

Trend Harga Emas : Sejauh Mana Mata Memandang

Pertanyaan yang terus sampai ke saya , khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah“…kapan membeli Dinar yang paling tepat ?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “…apakah harga akan turun lagi ?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “…apakah harga akan terus naik ?” dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esuk hari. Yang paling banter adalah kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel  ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan dua grafik dibawah contohnya yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data dua tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung kebawah yang dapat diartikan bahwa untuk dua tahun terakhir  cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendlinedalam US$, cekung keatas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend harga Emas 2 Tahun

Baca Selengkapnya »Trend Harga Emas : Sejauh Mana Mata Memandang

Malcare WordPress Security