Lompat ke konten
Home » proteksi inflasi

proteksi inflasi

Kisah Uang Pensiun Yang Tidak Segera Habis

Cerita ini saya adopsi dari pengalaman salah satu nasabah Gerai Dinar. Tahun 2008 ketika dia berusia 65 tahun sudah merasa sangat lelah dengan pekerjaannya, dia ingin istirahat tidak lagi bekerja namun juga tidak ingin menjadi beban orang lain. Pada saat yang bersamaan dia ingin tabungannya mampu melawan inflasi sehingga dapat menopang kebutuhan hidupnya sampai akhir hayat. Yang dia lakukan ini bisa menjadi contoh bagi para pensiunan lainnya.

Pada pertengahan Oktober 2008 ketika harga Dinar berada di Rp 1,197,000 dia mengkonversi sebagian tabungan dan dana pensiunnya menjadi 1,000 Dinar atau setara Rp 1,197,000,000 saat itu. Sebagian yang lain dia pertahankan dalam Rupiah dan Dollar karena akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan jangka pendek lainnya.

Baca Selengkapnya »Kisah Uang Pensiun Yang Tidak Segera Habis

Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak?

Bagi Anda yang berpenghasilan US$ namun pengeluaran dalam Rupiah, setahun terakhir Anda mungkin merasakan uang Anda lebih cepat habis karena biaya hidup yang bertambah mahal. Hal ini adalah karena penghasilan Anda dalam US$ bila dikonversikan ke Rupiah setahun terakhir mengalami penurunan sekitar sekitar 5 % dari US$ 1 = Rp 9,450 (oct’ 09) ke US$ 1 = Rp 8,940 (oct’ 10). Tetapi bagi kita yang berpenghasilan Rupiah dan pengeluaran juga dalam Rupiah, mengapa biaya hidup juga tetap bertambah berat ?.

Inilah efek dari pengukuran relatif.  Bila Anda mengemudi kendaraan mundur, kemudian disamping Anda ada mobil lain yang juga mundur dengan kecepatan lebih tinggi – maka mobil Anda terasa relatif berjalan maju ketimbang mobil lain yang mundur lebih cepat tersebut. Inilah yang terjadi mengapa para ekonom sekalipun, saat ini mengira bahwa Rupiah sedang menguat – tidak ada yang mengatakan melemah – dalam setahun terakhir karena acuannya selalu US$ – yang lagi melaju mundur dengan kecepatan lebih tinggi.

Untuk mengetahui kearah mana mobil Anda berjalan, tidak bisa membandingkannya dengan arah mobil lain yang juga sedang berjalan. Anda harus melihat ke-arah pohon, bangunan atau benda lain yang tidak bergerak, baru Anda tahu apakah mobil Anda sedang berjalan mundur atau maju.

Dalam hal mata uang seharusnya melemah atau menguatnya tidak diukur relatif terhadap mata uang lain, tetapi diukur dari daya belinya terhadap benda riil yang kita butuhkan. Ketika Rupiah saat ini dikatakan menguat sekitar 5 %, ternyata Indek Harga Konsumen (IHK) menunjukkan kenaikan sampai 5.8 % (year on year sept’09 – Sept’10 ).

Baca Selengkapnya »Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak?

Inflasi Dan Pak Ogah

Tahun 80-an ada film seri boneka yang sangat terkenal di TVRI yaitu Si Unyil. Selain tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Si Unyil sendiri dan teman-temannya, ada tokoh lain yang kemudian sampai kini melahirkan sebuah ‘profesi’ tersendiri di masyarakat yaitu  yang disebut Pak Ogah.

Disebut Pak Ogah karena setiap kali ada pekerjaan dia menghindar dengan bahasanya yang khas “Ogah aah…”. Pak Ogah ini kemudian pekerjaannya nongkrong di gardu dan suka meminta uang kepada anak-anak yang lewat dengan ucapannya “Cepek Den…”. Cepek yang berarti uang Seratus Rupiah, di tahun 80-an adalah uang yang cukup berharga – nilainya kurang lebih setara dengan 1/1000 (1 per mil) Dinar. Pada dasawarsa tersebut Cepek adalah uang receh terkecil yang paling mudah di dapat.

Kemudian ketika tahun 80-an akhir mulai ada anak-anak muda ‘kreatif’ , yang pekerjaannya ‘njagain’ putaran-putaran jalan; belokan atau persimpangan yang tidak di jaga polisi, lokasi jalan rusak dan lain sebagainya dimana pengemudi harus melambatkan kendaraannya – maka ‘profesi’ anak-anak muda tersebut secara umum disebut Pak Ogah. Entah siapa yang mulai menyebutnya demikian, tetapi yang jelas pastilah tokoh Pak Ogah dalam film si Unyil yang meng-‘ilhami’ masyarakat untuk menyebutnya sebagai Pak Ogah untuk jenis pekerjaan ini.

Kini 20-30 tahun kemudian, profesi tersebut merajalela di seantero negeri. Sebagian keberadaannya sangat dibutuhkan, misalnya ada jalan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan – anak-anak muda ini kreatif mengaturnya agar kendaraan yang lewat dapat bergantian. Sebagian lain sangat mengganggu, misalnya di jalan raya besar antar provinsi – dipasangi drum di tengah jalan agar orang melambatkan kendaraannya – kemudian dimintain uang.

Baca Selengkapnya »Inflasi Dan Pak Ogah

Enam Alasan Mengapa Kita Justru Butuh Emas/Dinar Di Era Ekonomi Global

Dalam beberapa pekan terakhir ini kita bener-bener merasakan betapa terintegrasinya ekonomi dunia sekarang. Bahkan krisis di Negara yang sangat jauh baik dari sisi geografis maupun dari sisi hubungan ekonomi-pun, dampaknya dapat kita rasakan sampai negeri ini.  Rupiah bisa lunglai, saham-saham di Indonesia Stock Exchange ikut anjlog – padahal pusat epicentrum gempa financial dunia-nya ada nun jauh di Yunani sana.

Lantas dengan komponen apa kita bisa membangun ‘bangunan tahan gempa financial’ kita ?, agar rencana pendidikan anak-anak yang masih belasan tahun, rencana pergi haji lima tahun mendatang, rencana renovasi rumah setiap sepuluh tahun, tabungan hari tua agar tetap mandiri sampai akhir hayat dlsb. dlsb.  – tidak setiap saat terekspose risiko krisis financial global ?.

Emas atau Dinar-lah salah satu batu bata yang kokoh untuk bangunan finansial Anda sebagai jawaban dari risiko tersebut diatas, yang insyallah tahan gempa krisis financial global dengan frequency kejadian  dan severity yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Emas/Dinar memiliki enam alasan yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya sebagai berikut :

Baca Selengkapnya »Enam Alasan Mengapa Kita Justru Butuh Emas/Dinar Di Era Ekonomi Global

Malcare WordPress Security